Dokumen Pengajuan Sertifikat CPKB Golongan B BPOM Terbaru

Dokumen Pengajuan Sertifikat CPKB Golongan B BPOM Terbaru – Pengajuan Sertifikat Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) Golongan B memerlukan sejumlah dokumen administrasi dan teknis yang harus dipersiapkan sebelum permohonan diajukan melalui sistem OSS Risk Based Approach (OSS RBA) dan e-Sertifikasi BPOM.

Kelengkapan dokumen menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kelancaran proses evaluasi. Apabila terdapat dokumen yang tidak lengkap atau tidak sesuai, BPOM dapat meminta perbaikan bahkan menunda proses sertifikasi hingga seluruh persyaratan dipenuhi.

Berikut dokumen yang perlu disiapkan untuk mengajukan Sertifikat Pemenuhan Aspek (SPA) CPKB) Golongan B.

Mengapa Kelengkapan Dokumen Sangat Penting?

Sebelum melakukan pemeriksaan fasilitas, BPOM akan mengevaluasi seluruh dokumen yang diunggah oleh perusahaan.

Dokumen tersebut digunakan untuk memastikan bahwa perusahaan telah memenuhi persyaratan administrasi, memiliki fasilitas yang sesuai, serta menerapkan sistem mutu Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik.

Semakin lengkap dokumen yang disiapkan, semakin cepat proses evaluasi dapat dilakukan.

1. Dokumen Administrasi

Dokumen administrasi merupakan persyaratan awal yang harus dipenuhi sebelum proses sertifikasi dapat dilanjutkan.

Nomor Induk Berusaha (NIB)

Perusahaan wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diterbitkan melalui sistem OSS RBA.

NIB harus menggunakan KBLI 20232 (Industri Kosmetika) sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan.

Surat Permohonan

Perusahaan harus menyampaikan surat permohonan penerbitan Sertifikat CPKB kepada Kepala BPOM melalui sistem pengajuan online.

Dokumen ini menjadi dasar dimulainya proses evaluasi administrasi.

Surat Persetujuan Denah Bangunan

Sebelum mengajukan Sertifikat CPKB, perusahaan wajib memiliki Surat Persetujuan Denah Bangunan Industri Kosmetika.

Denah bangunan harus menunjukkan bahwa fasilitas produksi telah dirancang sesuai prinsip Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik, termasuk alur material, alur personel, serta pemisahan area produksi.

Surat Penunjukan Penanggung Jawab Teknis

Perusahaan wajib melampirkan surat penunjukan resmi bagi Penanggung Jawab Teknis (PJT).

Untuk Industri Kosmetika Golongan B, PJT minimal merupakan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) atau Ahli Madya Farmasi sesuai ketentuan BPOM.

Surat Persetujuan Penggunaan Fasilitas Bersama

Apabila fasilitas produksi digunakan bersama dengan industri lain, misalnya industri obat atau obat tradisional, perusahaan harus melampirkan Surat Persetujuan Penggunaan Fasilitas Bersama yang masih berlaku.

Dokumen ini diperlukan untuk memastikan bahwa penggunaan fasilitas bersama tetap memenuhi standar mutu dan tidak menimbulkan risiko kontaminasi silang.

Dokumen Pengajuan Sertifikat CPKB Golongan B BPOM Terbaru
Dokumen Pengajuan Sertifikat CPKB Golongan B BPOM Terbaru

2. Dokumen Teknis Penerapan Sistem Mutu CPKB

Selain dokumen administrasi, perusahaan juga harus menyiapkan dokumen teknis yang menunjukkan penerapan sistem mutu CPKB.

Untuk Industri Kosmetika Golongan B, penerapan sistem mutu difokuskan pada beberapa aspek utama sesuai ketentuan BPOM.

Aspek Higiene dan Sanitasi

Dokumen higiene dan sanitasi bertujuan memastikan bahwa seluruh proses produksi dilakukan dalam kondisi yang bersih dan higienis.

Dokumen yang perlu disiapkan antara lain:

  • SOP higiene personel.
  • SOP sanitasi fasilitas.
  • SOP sanitasi peralatan.
  • Jadwal pembersihan ruang produksi.
  • Catatan sanitasi.
  • Catatan pemeriksaan kesehatan personel.
  • Program kebersihan lingkungan.
  • Penggunaan alat pelindung diri (APD).

Seluruh dokumen tersebut harus diterapkan secara konsisten dalam kegiatan operasional perusahaan.

Aspek Dokumentasi

Dokumentasi merupakan bagian penting dalam penerapan CPKB karena seluruh kegiatan produksi harus dapat ditelusuri.

Beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan meliputi:

  • Struktur organisasi.
  • SOP atau Prosedur Operasional Baku (POB).
  • Spesifikasi bahan baku.
  • Spesifikasi bahan kemas.
  • Catatan pengolahan bets (Batch Manufacturing Record).
  • Catatan pengemasan.
  • Sistem identifikasi dan pelabelan.
  • Dokumen distribusi produk.
  • Arsip dokumen mutu.

Dokumen harus mudah ditelusuri, selalu diperbarui, dan sesuai dengan praktik yang dilakukan di lapangan.

3. Tahapan Pengajuan Sertifikat CPKB Golongan B

Setelah seluruh dokumen siap, perusahaan dapat memulai proses pengajuan melalui sistem BPOM.

Registrasi Akun Perusahaan

Langkah pertama adalah membuat atau menggunakan akun perusahaan pada portal e-Sertifikasi BPOM yang telah terintegrasi dengan OSS RBA.

Pastikan seluruh data perusahaan telah sesuai sebelum melanjutkan proses.

Mengunggah Dokumen Persyaratan

Selanjutnya perusahaan mengunggah seluruh dokumen administrasi dan dokumen teknis sesuai persyaratan.

Pastikan seluruh file jelas, lengkap, dan sesuai format yang diminta oleh sistem.

Pengajuan Melalui OSS RBA

Setelah dokumen lengkap, permohonan diajukan melalui sistem OSS RBA.

Sistem akan mengirimkan data kepada BPOM untuk dilakukan evaluasi administrasi.

Evaluasi Dokumen oleh BPOM

Petugas BPOM akan memeriksa seluruh dokumen yang telah diunggah.

Apabila terdapat kekurangan, perusahaan akan diminta melakukan perbaikan sebelum proses dapat dilanjutkan.

Pemeriksaan Sarana

Setelah dokumen dinyatakan memenuhi persyaratan, BPOM akan menjadwalkan pemeriksaan fasilitas produksi.

Auditor akan memastikan bahwa kondisi nyata di lapangan sesuai dengan dokumen yang telah diajukan.

Mengapa Persiapan Dokumen Harus Dilakukan Sejak Awal?

Banyak permohonan Sertifikat CPKB mengalami keterlambatan karena dokumen belum lengkap atau belum sesuai dengan persyaratan BPOM.

Dengan menyiapkan seluruh dokumen sejak awal, perusahaan dapat memperoleh berbagai keuntungan, antara lain:

  • Mempercepat evaluasi administrasi.
  • Mengurangi risiko penolakan.
  • Mempermudah proses audit.
  • Mengurangi revisi dokumen.
  • Mempercepat penerbitan Sertifikat CPKB.
  • Meningkatkan peluang lolos evaluasi BPOM.

Percayakan Pengurusan Sertifikat CPKB Golongan B kepada PERMATAMAS

Pendampingan Dokumen Hingga Sertifikat Terbit

PERMATAMAS menyediakan layanan Jasa Pengurusan Sertifikat CPKB Golongan B BPOM dengan pendampingan menyeluruh mulai dari pemeriksaan legalitas perusahaan, penyusunan dokumen administrasi, penyusunan dokumen sistem mutu CPKB, persiapan fasilitas produksi, pendampingan audit BPOM, hingga sertifikat diterbitkan.

Tim kami memastikan seluruh dokumen telah sesuai dengan regulasi BPOM sehingga proses pengajuan menjadi lebih cepat, tepat, dan minim kendala.

Kami juga memberikan garansi 100% uang kembali apabila proses gagal karena kesalahan tim PERMATAMAS.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ

1. Apa saja dokumen utama untuk mengajukan Sertifikat CPKB Golongan B?

Dokumen utama meliputi NIB dengan KBLI 20232, surat permohonan, surat persetujuan denah bangunan, surat penunjukan Penanggung Jawab Teknis, serta dokumen sistem mutu CPKB.

2. Apakah NIB wajib dimiliki sebelum mengajukan CPKB?

Ya. Perusahaan wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diterbitkan melalui OSS RBA dengan KBLI Industri Kosmetika yang sesuai.

3. Siapa yang dapat menjadi Penanggung Jawab Teknis Golongan B?

Minimal seorang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) atau Ahli Madya Farmasi sesuai persyaratan BPOM.

4. Apakah surat persetujuan denah bangunan wajib dilampirkan?

Ya. Surat Persetujuan Denah Bangunan merupakan salah satu dokumen penting dalam proses pengajuan Sertifikat CPKB Golongan B.

5. Apa saja dokumen sistem mutu yang harus disiapkan?

Dokumen sistem mutu mencakup SOP higiene, sanitasi, dokumentasi produksi, spesifikasi bahan baku, catatan batch, struktur organisasi, dan dokumen mutu lainnya sesuai ketentuan BPOM.

6. Apakah pengajuan dilakukan secara online?

Ya. Seluruh proses pengajuan dilakukan melalui OSS RBA dan e-Sertifikasi BPOM.

7. Apakah BPOM akan memeriksa dokumen sebelum audit fasilitas?

Ya. BPOM terlebih dahulu melakukan evaluasi administrasi sebelum menjadwalkan inspeksi sarana produksi.

8. Apakah perusahaan harus memiliki surat penggunaan fasilitas bersama?

Hanya jika menggunakan fasilitas produksi bersama dengan industri lain sesuai ketentuan BPOM.

9. Mengapa dokumen harus dipersiapkan dengan lengkap?

Dokumen yang lengkap membantu mempercepat proses evaluasi, mengurangi revisi, dan meningkatkan peluang memperoleh Sertifikat CPKB.

10. Mengapa menggunakan jasa PERMATAMAS untuk pengurusan dokumen CPKB?

PERMATAMAS membantu menyiapkan seluruh dokumen administrasi dan teknis sesuai regulasi BPOM, mendampingi proses audit, hingga sertifikat terbit dengan garansi 100% uang kembali apabila proses gagal karena kesalahan tim PERMATAMAS.

12 Aspek Sertifikasi CPKB BPOM yang Wajib Dipenuhi Industri Kosmetik

12 Aspek Sertifikasi CPKB BPOM yang Wajib Dipenuhi Industri KosmetikIndustri kosmetik di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk perawatan kulit, kosmetik dekoratif, perawatan rambut, hingga produk kebersihan diri. Di balik perkembangan tersebut, setiap perusahaan kosmetik wajib memastikan bahwa seluruh proses produksinya memenuhi standar yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Salah satu standar yang harus diterapkan adalah Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB).

Dalam proses memperoleh Sertifikasi CPKB BPOM, perusahaan akan dinilai berdasarkan berbagai aspek yang berkaitan dengan sistem produksi, pengendalian mutu, fasilitas, sumber daya manusia, hingga dokumentasi. Tujuan utama penerapan CPKB adalah memastikan setiap kosmetik diproduksi secara konsisten sehingga aman digunakan, memiliki mutu yang baik, dan memenuhi persyaratan yang berlaku.

Memahami 12 aspek Sertifikasi CPKB BPOM menjadi langkah penting bagi setiap industri kosmetik yang sedang mempersiapkan sertifikasi maupun pengajuan izin edar kosmetik. Dengan menerapkan seluruh aspek tersebut secara konsisten, perusahaan tidak hanya memenuhi regulasi BPOM, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dipasarkan.

Apa Itu Sertifikasi CPKB BPOM?

Sertifikasi CPKB BPOM adalah pengakuan resmi yang diberikan kepada industri kosmetik yang telah menerapkan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) sesuai ketentuan BPOM. Sertifikasi ini menunjukkan bahwa seluruh proses produksi telah memenuhi standar mutu, keamanan, dan pengawasan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Penerapan CPKB tidak hanya berfokus pada hasil akhir produk, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas produksi mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi produk jadi. Dengan sistem yang baik, perusahaan dapat menghasilkan kosmetik yang memiliki kualitas konsisten pada setiap proses produksi.

Manfaat Sertifikasi CPKB BPOM antara lain:

  1. Menjamin keamanan dan mutu produk kosmetik.
  2. Mendukung proses pengajuan izin edar BPOM.
  3. Meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata konsumen.
  4. Memperkuat daya saing industri kosmetik di pasar.

Sertifikasi ini menjadi salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam menjalankan proses produksi sesuai standar nasional.

Mengapa Industri Kosmetik Harus Memenuhi 12 Aspek CPKB?

Penerapan 12 aspek CPKB bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi, tetapi merupakan bagian dari sistem manajemen mutu yang bertujuan menghasilkan produk kosmetik yang aman dan berkualitas.

Setiap aspek saling berkaitan sehingga seluruh proses produksi dapat berjalan secara terkontrol. Apabila salah satu aspek tidak diterapkan dengan baik, risiko terjadinya kontaminasi, kesalahan produksi, atau penurunan mutu produk dapat meningkat.

Penerapan 12 aspek CPKB memberikan manfaat berupa:

  • Menjamin konsistensi mutu produk.
  • Mengurangi risiko kesalahan produksi.
  • Memenuhi ketentuan BPOM.
  • Meningkatkan kepercayaan konsumen dan mitra bisnis.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan evaluasi secara berkala terhadap seluruh sistem produksinya.

1. Sistem Manajemen Mutu

Sistem Manajemen Mutu merupakan dasar dari seluruh penerapan CPKB. Perusahaan wajib memiliki kebijakan mutu, prosedur operasional, serta mekanisme pengendalian yang memastikan seluruh kegiatan produksi berjalan sesuai standar.

Melalui sistem ini, setiap proses dapat dikendalikan sehingga kualitas produk tetap konsisten dari waktu ke waktu.

Komponen utama yang harus tersedia meliputi:

  1. Kebijakan mutu perusahaan.
  2. Standar Operasional Prosedur (SOP).
  3. Sistem evaluasi dan perbaikan.
  4. Pengendalian perubahan proses.

Sistem manajemen mutu yang baik akan menjadi fondasi dalam memenuhi seluruh aspek CPKB lainnya.

2. Personalia

Keberhasilan penerapan CPKB sangat dipengaruhi oleh kompetensi sumber daya manusia. Seluruh personel yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan yang memadai.

Perusahaan juga wajib memberikan pelatihan secara berkala agar seluruh karyawan memahami prosedur kerja sesuai ketentuan BPOM.

Hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Struktur organisasi yang jelas.
  2. Kualifikasi sesuai jabatan.
  3. Program pelatihan berkala.
  4. Pembagian tugas dan tanggung jawab.

Personel yang kompeten akan membantu menjaga kualitas proses produksi secara konsisten.

3. Bangunan dan Fasilitas

Bangunan dan fasilitas produksi harus dirancang agar mendukung proses pembuatan kosmetik secara higienis dan efisien. Tata letak ruangan harus mampu mencegah pencampuran bahan maupun kontaminasi silang.

Selain desain bangunan, perusahaan juga wajib menjaga kebersihan dan melakukan pemeliharaan fasilitas secara rutin.

Persyaratan yang perlu dipenuhi antara lain:

  1. Tata letak ruang produksi yang baik.
  2. Area penyimpanan yang memadai.
  3. Sistem ventilasi dan pencahayaan.
  4. Pemeliharaan fasilitas secara berkala.

Fasilitas yang memenuhi standar akan mendukung proses produksi yang aman.

12 Aspek Sertifikasi CPKB BPOM yang Wajib Dipenuhi Industri Kosmetik
12 Aspek Sertifikasi CPKB BPOM yang Wajib Dipenuhi Industri Kosmetik

4. Peralatan

Seluruh mesin dan peralatan produksi harus sesuai dengan kebutuhan proses produksi kosmetik. Peralatan wajib dijaga kebersihannya, dirawat secara berkala, serta dikalibrasi apabila diperlukan.

Pengelolaan peralatan yang baik membantu menghasilkan produk dengan mutu yang konsisten.

Aspek yang harus diperhatikan meliputi:

  1. Spesifikasi mesin sesuai kebutuhan.
  2. Jadwal pemeliharaan rutin.
  3. Kalibrasi alat tertentu.
  4. Dokumentasi perawatan mesin.

Peralatan yang terawat akan mengurangi risiko gangguan selama proses produksi.

5. Sanitasi dan Higiene

Sanitasi dan higiene bertujuan menjaga kebersihan lingkungan kerja maupun personel agar tidak terjadi pencemaran terhadap produk kosmetik.

Program sanitasi harus diterapkan secara konsisten mulai dari area produksi hingga fasilitas pendukung.

Program yang diterapkan meliputi:

  1. Kebersihan ruang produksi.
  2. Pengendalian hama.
  3. Penggunaan pakaian kerja yang sesuai.
  4. Prosedur kebersihan personel.

Lingkungan yang bersih akan membantu menghasilkan produk kosmetik yang aman.

6. Produksi

Setiap tahapan produksi harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sehingga menghasilkan produk yang konsisten dan sesuai spesifikasi.

Pengawasan dilakukan sejak penerimaan bahan baku hingga proses pengemasan.

Tahapan produksi meliputi:

  1. Penimbangan bahan.
  2. Pencampuran formula.
  3. Pengisian dan pengemasan.
  4. Pengendalian proses produksi.

Produksi yang terkontrol menjadi salah satu kunci keberhasilan penerapan CPKB.

7. Pengawasan Mutu (Quality Control)

Bagian Quality Control bertugas memastikan bahwa seluruh bahan baku, bahan kemas, produk antara, dan produk jadi telah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.

Pengujian dilakukan menggunakan metode yang sesuai sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Pengawasan mutu meliputi:

  1. Pengujian bahan baku.
  2. Pengujian bahan kemas.
  3. Pengujian produk jadi.
  4. Persetujuan pelepasan produk.

Quality Control menjadi salah satu aspek yang paling penting dalam Sertifikasi CPKB BPOM.

8. Dokumentasi

Setiap aktivitas produksi wajib dicatat secara lengkap agar seluruh proses dapat ditelusuri apabila terjadi penyimpangan.

Dokumentasi menjadi bukti bahwa seluruh kegiatan telah dilaksanakan sesuai prosedur.

Dokumen yang harus tersedia meliputi:

  1. Formula produk.
  2. Catatan produksi.
  3. Hasil pengujian laboratorium.
  4. Data distribusi produk.

Dokumentasi yang lengkap mempermudah proses audit maupun evaluasi.

9. Audit Internal

Audit internal dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi kepatuhan perusahaan terhadap seluruh persyaratan CPKB.

Hasil audit digunakan sebagai dasar dalam melakukan tindakan perbaikan dan peningkatan sistem mutu.

Kegiatan audit meliputi:

  1. Pemeriksaan fasilitas.
  2. Evaluasi dokumen.
  3. Pemeriksaan penerapan SOP.
  4. Tindak lanjut hasil audit.

Audit internal membantu perusahaan tetap siap menghadapi inspeksi BPOM.

10. Penyimpanan

Seluruh bahan baku, bahan kemas, produk antara, dan produk jadi harus disimpan dalam kondisi yang sesuai agar kualitasnya tetap terjaga.

Pengendalian suhu, kelembapan, dan sistem identifikasi menjadi bagian penting dalam aspek ini.

Persyaratan penyimpanan meliputi:

  1. Pengaturan suhu penyimpanan.
  2. Identifikasi setiap bahan.
  3. Sistem FIFO atau FEFO apabila diperlukan.
  4. Kebersihan area gudang.

Penyimpanan yang baik membantu mencegah kerusakan produk.

11. Kontrak Produksi dan Pengujian (Maklon)

Apabila perusahaan menggunakan jasa maklon atau laboratorium pihak ketiga, harus terdapat perjanjian tertulis yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Perjanjian tersebut bertujuan menjaga mutu produk tetap sesuai standar.

Hal yang perlu diatur meliputi:

  1. Ruang lingkup pekerjaan.
  2. Tanggung jawab para pihak.
  3. Pengawasan mutu.
  4. Dokumentasi kegiatan maklon.

Dengan pengaturan yang jelas, kualitas produk tetap dapat dipertahankan.

12. Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk

Perusahaan wajib memiliki sistem untuk menerima, mengevaluasi, dan menyelesaikan keluhan konsumen secara efektif.

Selain itu, harus tersedia prosedur penarikan produk dari peredaran apabila ditemukan masalah yang berpotensi membahayakan konsumen.

Prosedur yang harus dimiliki antara lain:

  1. Penerimaan keluhan pelanggan.
  2. Investigasi penyebab masalah.
  3. Penarikan produk (recall).
  4. Tindakan korektif dan pencegahan.

Sistem ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam melindungi konsumen.

Kesimpulan

Penerapan 12 Aspek Sertifikasi CPKB BPOM merupakan fondasi utama bagi industri kosmetik dalam menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan memenuhi ketentuan BPOM. Seluruh aspek, mulai dari sistem manajemen mutu, personalia, bangunan, peralatan, sanitasi, produksi, quality control, dokumentasi, audit internal, penyimpanan, kontrak maklon, hingga penanganan keluhan dan penarikan produk harus diterapkan secara konsisten sebagai bagian dari sistem Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik.

Apabila perusahaan Anda sedang mempersiapkan Sertifikasi CPKB BPOM, SPA CPKB, maupun proses izin edar kosmetik, PERMATAMAS siap membantu melalui layanan konsultasi dan pendampingan profesional. Kami mendampingi mulai dari analisis kesiapan industri, penyusunan dokumen, implementasi 12 aspek CPKB, hingga proses sertifikasi sesuai ketentuan BPOM, sehingga perusahaan dapat menjalankan proses secara lebih efektif, efisien, dan sesuai regulasi yang berlaku.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ

1. Apa itu 12 Aspek CPKB BPOM?
12 Aspek CPKB BPOM adalah standar yang wajib diterapkan industri kosmetik untuk memastikan proses produksi menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan sesuai ketentuan BPOM.

2. Apa saja 12 Aspek CPKB BPOM?
Meliputi Sistem Manajemen Mutu, Personalia, Bangunan dan Fasilitas, Peralatan, Sanitasi dan Higiene, Produksi, Pengawasan Mutu, Dokumentasi, Audit Internal, Penyimpanan, Kontrak Produksi dan Pengujian (Maklon), serta Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk.

3. Mengapa industri kosmetik harus memenuhi 12 Aspek CPKB?
Karena aspek tersebut menjadi dasar penilaian BPOM untuk memastikan proses produksi kosmetik memenuhi standar keamanan dan mutu.

4. Apakah 12 Aspek CPKB menjadi syarat Sertifikasi CPKB BPOM?
Ya. Seluruh aspek harus diterapkan sebagai bagian dari persyaratan dalam proses Sertifikasi CPKB BPOM.

5. Apa manfaat menerapkan 12 Aspek CPKB?
Manfaatnya antara lain menjaga kualitas produk, memenuhi regulasi BPOM, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan mendukung pengajuan izin edar kosmetik.

6. Siapa yang wajib menerapkan 12 Aspek CPKB?
Seluruh industri atau perusahaan yang memproduksi kosmetik sesuai ketentuan BPOM wajib menerapkan prinsip-prinsip CPKB.

7. Apa yang dimaksud dengan Audit Internal dalam CPKB?
Audit Internal adalah pemeriksaan berkala yang dilakukan perusahaan untuk memastikan seluruh proses telah sesuai dengan standar CPKB.

8. Apakah perusahaan maklon kosmetik juga harus menerapkan CPKB?
Ya. Perusahaan maklon wajib menerapkan CPKB sesuai ruang lingkup kegiatan produksinya.

9. Bagaimana cara mempersiapkan Sertifikasi CPKB BPOM?
Perusahaan perlu menyiapkan dokumen, fasilitas produksi, sistem mutu, serta memastikan seluruh aspek CPKB telah diterapkan.

10. Mengapa menggunakan jasa pendampingan Sertifikasi CPKB BPOM?
Jasa pendampingan membantu mempersiapkan dokumen, mengevaluasi kesiapan industri, dan mendampingi proses sertifikasi agar lebih efektif dan sesuai ketentuan BPOM.

Jasa Sertifikasi Halal, CPKB, SPA CPKB, dan CPPKRTB Secara Profesional bukan hanya kepatuhan, melainkan kunci akselerasi penetrasi pasar domestik & internasional. Kami siap mendampingi usaha Anda dengan integritas tanpa batas.

© 2011 Created with Dokter Website

Alamat Kantor

Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat, Indonesia

Telp : 021-89253417
Hp/WA : 085777630555

Permatamas Indonesia Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.